Pacitan, 21 Mei 2026 – Ketua Pengadilan Tinggi Agama (KPTA) beserta Panitera PTA Surabaya melaksanakan agenda pembinaan formal di Pengadilan Agama Pacitan. Acara pembinaan yang berlangsung di ruang Media Center ini dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan, hakim, serta pegawai satker. Dalam arahannya, KPTA menekankan pentingnya meluruskan niat serta meningkatkan motivasi seluruh aparatur dalam mengabdi di lingkungan Peradilan Agama. Beliau mengingatkan bahwa dedikasi di lembaga peradilan ini harus didasari oleh rasa syukur yang mendalam dan semangat perjuangan yang tinggi. Transformasi mental ini dinilai sangat krusial agar kehadiran setiap aparatur memberikan dampak nyata bagi kemajuan organisasi.

Memasuki inti pembinaan, KPTA mengulas kembali capaian kinerja luar biasa yang telah berhasil diraih oleh Pengadilan Agama Pacitan sepanjang tahun lalu. Sepanjang periode tersebut, satker ini sukses memutus 1.159 perkara dari total 1.261 perkara yang diterima hingga persentasenya mendekati angka sempurna. Capaian impresif ini kian lengkap dengan torehan nilai 100% pada pemanfaatan layanan e-court dan pengelolaan e-Keuangan tanpa kendala. Berkat kerja keras kolektif, Pengadilan Agama Pacitan berhasil menduduki peringkat 21 nasional untuk kategori Pengadilan Agama Kelas 1B se-Indonesia. Prestasi membanggakan ini diperkuat dengan fakta nol pengaduan dari masyarakat yang mencerminkan tingginya integritas publik seluruh pegawai.

Pada sesi akhir pembinaan, KPTA Surabaya meluncurkan program perluasan budaya kerja dari 5S menjadi 6S dengan menambahkan aspek Sedekah. Selain penguatan aspek spiritual, pembinaan ini juga menyoroti penyelarasan teknis hukum terkait aplikasi E-AC demi menjamin hak-hak istri pasca-perceraian. Jajaran humas juga diinstruksikan untuk menyempurnakan visi Mahkamah Agung ke dalam yel-yel institusi serta mengemasnya dalam konten digital yang kreatif.

Penyempurnaan yel-yel tersebut diharapkan dapat membangun keterikatan dan kesinambungan visi yang kuat mulai dari tingkat satker daerah hingga ke Mahkamah Agung. KPTA menyarankan pengemasan konten kehumasan digital dibuat semenarik mungkin, salah satunya dengan mengenakan pakaian adat saat pembuatan video yel-yel institusi. Strategi publikasi yang kreatif dinilai sangat efektif dalam membangun citra positif serta menarik perhatian publik secara luas di media sosial. Seluruh rangkaian pembinaan hari itu ditutup dengan semangat baru untuk mempertahankan reputasi juara demi membidik predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).



